Walikota
Makassar, Ilham Arief
Sirajuddin, menandatangani nota kesepahaman atau MoU, dengan Chief of Party USAID
Indonesia Clean Energy Development, Bill Meade,
dan Direktur Konservasi
Energi Kementerian ESDM, Maritje Hutapea, selaku pimpinan program UNDP Barrier Removal to The Cost Effective Development and Implementation
of Energy Efficiency Standards and Labeling (BRESL), di
Hotel Aston Makassar, Senin(20/05/13). Ketiga pihak ini akan bekerjasama, dalam rangka
pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 13, Tahun 2011 tentang Penghematan Energi
dan Air, khususnya di Kota Makassar.
Proyek UNDP BRESL ini, menjadikan Kota Makassar
sebagai pionir, dalam penggunaan peralatan listrik hemat energi, dan konsumsi
air. Proyek yang akan berlangsung hingga BULAN September 2014 ini, akan mulai
direalisasikan di gedung Balaikota, dan kantor Gabungan Dinas Kota Makassar.
Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin, mengatakan,
saat ini, Pemerintah Kota telah membentuk gugus tugas penghematan energi dan
air. Langkah konkrit yang juga dilakukan, yakni, meningkatkan kesadaran, dan
perubahan perilaku pegawai, dalam mengurangi penggunaan energy.
Setiap bulan, Pemerintah Kota Makassar, harus
mengeluarkan biaya sekitar 500 juta rupiah, untuk membayar beban listrik. “Hampir setiap
bulan biaya yang dikeluarkan untuk pembayaran listrik di semua kantor - kantor
lingkup Pemkot
Makassar berkisar 500 juta rupiah. Jadi,
saya berharap ada pengurangan yang
signifikan,
jika upaya efisiensi ini berjalan efektif " jelas Ilham.
Sementara itu, Direktur Konservasi Energi Kementerian ESDM,
Maritje Hutapea, sangat mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Makassar, dalam
mengambil komitmen penghematan energi dan air. Maritje berharap, setelah Makassar,
daerah lain di indonesia bisa melakukan hal serupa, dalam rangka pencapaian target
hemat energi yang dicanagkan oleh Pemerintah Pusat.
“Pelaksanaan
MoU yang kita lakukan hari ini, akan kami gaungkan diseluruh daerah di
Indonesia. Mudah
- mudahan daerah lainnya segera menyusul, mengingat ini kali pertama Pemda membuat kesepahaman dengan
lembaga dunia,
untuk menjalankan Inpres tentang
penghematan energi dan air” ujar Maritje Hutapea kepada sejumlah wartawan.
Tingginya
presentasi tingkat pertumbuhan konsumsi energi beberapa tahun terakhir di Indonesia, merupakan awal lahirnya Inpres, tentang penghematan energi
dan air. Berdasarkan
data Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, menunjukkan, pertumbuhan konsumsi energi
di indonesia mencapai tujuh persen
per tahun. Angka ini, lebih
tinggi dari jumlah pertumbuhan
energi dunia, yang
hanya mencapai dua
persen per tahun. (rr-df)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar