Senin, 20 Mei 2013

Makassar Jadi Pionir Program Penghematan Energi & Air


Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin, menandatangani nota kesepahaman atau MoU, dengan Chief of Party USAID Indonesia Clean Energy Development, Bill Meade, dan Direktur Konservasi Energi Kementerian ESDM, Maritje Hutapea, selaku pimpinan program UNDP Barrier Removal to The Cost Effective Development and Implementation of Energy Efficiency Standards and Labeling (BRESL), di Hotel Aston Makassar, Senin(20/05/13). Ketiga pihak ini akan bekerjasama, dalam rangka pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 13, Tahun 2011 tentang Penghematan Energi dan Air, khususnya di Kota Makassar.

Proyek UNDP BRESL ini, menjadikan Kota Makassar sebagai pionir, dalam penggunaan peralatan listrik hemat energi, dan konsumsi air. Proyek yang akan berlangsung hingga BULAN September 2014 ini, akan mulai direalisasikan di gedung Balaikota, dan kantor Gabungan Dinas Kota Makassar.

Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin, mengatakan, saat ini, Pemerintah Kota telah membentuk gugus tugas penghematan energi dan air. Langkah konkrit yang juga dilakukan, yakni, meningkatkan kesadaran, dan perubahan perilaku pegawai, dalam mengurangi penggunaan energy.

Setiap bulan, Pemerintah Kota Makassar, harus mengeluarkan biaya sekitar 500 juta rupiah, untuk membayar beban listrik. Hampir setiap bulan biaya yang dikeluarkan untuk pembayaran listrik di semua kantor - kantor lingkup Pemkot Makassar berkisar 500 juta rupiah. Jadi, saya berharap ada pengurangan yang signifikan, jika upaya efisiensi ini berjalan efektif " jelas Ilham.

Sementara itu, Direktur Konservasi Energi Kementerian ESDM, Maritje Hutapea, sangat mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Makassar, dalam mengambil komitmen penghematan energi dan air. Maritje berharap, setelah Makassar, daerah lain di indonesia bisa melakukan hal serupa, dalam rangka pencapaian target hemat energi yang dicanagkan oleh Pemerintah Pusat.

“Pelaksanaan MoU yang kita lakukan hari ini, akan kami gaungkan diseluruh daerah di Indonesia. Mudah - mudahan daerah lainnya segera menyusul, mengingat ini kali pertama Pemda membuat kesepahaman dengan lembaga dunia, untuk menjalankan Inpres tentang penghematan energi dan airujar Maritje Hutapea kepada sejumlah wartawan.

Tingginya presentasi tingkat pertumbuhan konsumsi energi beberapa tahun terakhir di Indonesia, merupakan awal lahirnya Inpres, tentang penghematan energi dan air. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, menunjukkan, pertumbuhan konsumsi energi di indonesia mencapai tujuh persen per tahun. Angka ini, lebih tinggi dari jumlah pertumbuhan energi dunia, yang hanya mencapai dua persen per tahun. (rr-df)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar